Text
Rekonstruksi Sejarah Umat Islam Di Tanah Papua
Posisi umat Islam di Papua ketika di bawah kolonial Belanda, sangat terjepit oleh persaingan misi Katholik dan Zending Kristen yang memperbanyak pengikutnya dan mendirikan lembaga-lembaga pendidi-kan di hampir semua pelosok Papua. Dalam kondisi demikian, maka sejumlah gerakan dan perjuangan umat Islam yang terorganisir muncul dan lahir, pada tahun 1920 di Merauke berdiri gerakan Ke-panduan Hizbul Wathon dari Muhammadiyah. Kemudian di Fakfak, lahir Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB) tahun 1960 yang bernama Openbaar Vervolg School Islam. Walaupun pimpinan sekolah terse-but bukan seorang Muslim.
Setelah Papua bergabung secara resmi ke dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963, perkemban-gan dan dinamika Islam semakin semarak dengan masuknya igran spontan terutama dari Sulawesi, Jawa dan Maluku. Juga dengan adanya program ransmigrasi (mayoritas orang Jawa) yang ditempatkan di Jayapura, Sorong, Manokwari, Nabire dan Merauke. Seiring dengan kedatangan mereka, lahirlah gerakan-gerakan sosial keagamaan seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Darul Da'wah wa al-Irsyad dan lain-lain. Berdiri juga lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti Yapis (Yayasan Pendidikan Islam) yang hampir mempunyai cabang di setiap kabupaten. Lembaga ini men-gelola pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi Umum dan Agama. Lebih jauh tentang sejarah umat Islam di Papua bisa pembaca temui dalam buku yang sang berharga ini.
Tidak tersedia versi lain